Jengkol Dan Petai Pun Melonjak Naik

07 June 2013 11:51

Para pedagang sayuran di berbagai pasar tradisional, menyesalkan kenaikan harga sejumlah sayuran dan sejenisnya, sementara harga bahan bakar minyak (BBM) belum naik. Kenaikan harga sayuran mencapai  Rp3.000  hingga Rp4.000  per kilogramnya.  Bahkan, dua jenis jenis  hortikultura  yang jarang dikonsumsi masyarakat luas, yakni petai dan jengkol, ikut latah naik.


Tidak tanggung tangung, kenaikan harga jengkol hingga mencapai 300 persen, dari Rp 20.000 per kilogram menjadi Rp 60.000 per kilogramnya. Bahkan, sejumlah pedagang memprediksi harga jengkol itu sebentar lagi akan menyamai harga daging sapi yang hingga kini masih bertengger di angka Rp 90.000 per kilogram.


Kepala Badan Litbang Pertanian yang juga Pelaksana Tugas (PLT) Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Haryono menyatakan, kenaikan harga produk pertanian, termasuk jengkol dan petai, bisa disebabkan oleh multi-faktor, terutama cuaca dan bagaimana petani dan pedagang mengatur pola untung-ruginya.


"Pada bulan Februari hingga Mei curah hujan tinggi, lalu Juni-Agustus memasuki musim kemarau. Artinya, diperlukan upaya pengendalian kelebihan curah hujan dan perbaikan sistem pengairan. Dalam konteks ini, kemungkinan akibat faktor cuaca, lalu ada informasi tentang rencanakan kenaikan harga BBM, mempengaruhi harga jengkol dan petai itu," kata Haryono.


Namun PLT Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementan ini, juga menganggap cukup fenomenal, jika jengkol dan petai, yang hanya dikonsumsi sebagian kecil masyarakat ini, harganya bisa melonjak drastis. "Akan ada pembinaan ke daerah-daerah, dan kita cari tahu apa yang terjadi," kata Haryono. (DI)

Komentar

Tentang Kami

"Berjuanglah di jalan yang benar, berusahalah menjadi lebih baik, dan junjunglah harkat manusia di posisi paling tinggi atas dasar keimanan. Dengan demikian, hidup kita lebih bermakna dan memberi...