HARGA KEDELAI MELONJAK, PERAJIN TEMPE MENJERIT

26 August 2013 21:28

Akibat menguatnya nilai dolar Amerika Serikat terhadap rupiah, membuat harga kacang kedelai turut melambung tinggi. Pasalnya, kedelai yang digunakan sebagai bahan tahu dan tempe, mayoritas adalah kedelai impor. Karena itu, para perajin tahu-tempe mulai menjerit.

Para pembuat tahu-tempe pun bersiasat untuk mencegah kerugian dan tetap tersedianya bahan pangan 'wajib' bagi kebanyakan orang Indonesia itu, yakni dengan mengurangi ukuran. Siasat memperkecil ukuran tahu-tempe ini terpaksa dilakukan, karena jika tidak para produsen tahu-tempe dipastikan bakal berhenti berproduksi atau menderita kerugian jika tetap membuat tahu-tempe.

Kenyataan itu, seperti yang dilakukan Ngadimin Noor, seorang perajin tempe rumahan di Jalan Kenanga Raya, Kelurahan Tanjung Sari, Kecamatan Medan Selayang, Medan, Sumatera Utara.

"Sebelum dolar naik, harga kedelai sekitar Rp 7.600 per kilogram. Kini harga kedelai menjadi Rp 8.600 per kilogram. Karena kenaikan ini, kami mengurangi stok bahan baku per bulan, dari 12 ton menjadi 10 ton saja.Karena stok bahan menurun, maka produksi pun menurun, dan ukurannya pun mengecil. Kami tak mungkin menaikkan harga jual," kata Ngadimin Noor, Senin (26/8).

 
Menurut Ngadimin Noor, kenaikan harga kedelai ini merupakan pukulan kedua bagi produsen tempe, setelah sebelumnya banyak pedagang tahu-tempe yang terpaksa menutup usahanya, akibat kelangkaan kedelai beberapa waktu lalu. (YUD)

Komentar

Tentang Kami

"Berjuanglah di jalan yang benar, berusahalah menjadi lebih baik, dan junjunglah harkat manusia di posisi paling tinggi atas dasar keimanan. Dengan demikian, hidup kita lebih bermakna dan memberi...